Faktanya,
kondisi sheet pile saat ini sudah miring mengarah ke sungai. Konstruksi dinding
sheet pile terlihat renggang dari kelamannya dan banyak ditemukan retakan
sehingga membuat beton sheet pile sepanjang kurang lebih 100 meter itu
“mengular” (melengkung).
Salah
seorang warga, Tengku Irmansyah, yang tinggal tepat di depan kontruksi bangunan
tersebut mengatakan kepada Atjehupdate.com, ia menilai proyek sheet pile
pengaman tebing sungai di Seruway termasuk proyek gagal dan tidak berguna sama
sekali bagi masyarakat. Sebab, pekerjaannya tidak selesai, mutu dan
kualitasnyapun diragukan bertahan lama.
“Beginilah
kondisinya, ditinggal begitu saja. Tanggul belum ditimbun dan sejumlah tiang
galangan belum selesai hingga tidak ada manfaat bagi warga, justru malah
semakin membahayakan kami para warga disekitar,” ujar Irmansyah di lokasi
proyek, Jumat (3/2) sore.
Irmansyah
menceritakan, setelah sheet pile selesai dipasang, selanjutnya pekerja menimbun
material tanah bercampur kerikil sebagai badan tanggul. Tetapi, penimbunan
dihentikan karena ada masalah pada sheet pile. Ada sekitar 20 dump truk material
timbunan telah disiapkan.
“Saat
dimasukan tanah timbun, dinding sheet pile ‘meletup’ dan hampir rubuh, mungkin
tidak tahan dengan tekanan. Setelah itu banyak sheet pile yang retak terutama
dibagian ujung sana,” ucapnya sambil menunjuk ke arah sheet pile yang retak.
“Setelah
sheet pile banyak yang patah dan miring pada bagian atas, belakangan sheet pile
di cor kembali dan ditambah tiang galangan sebagai penarik yang didalamnya terdapat
tali seling,” ungkapnya.
Amatan
dirinya, panjang sheet pile pengaman tebing sekitar 12 meter/batang, semuanya
dipancang ditepi sungai menggunakan alat berat (crane). Akan tetapi menurutnya
paku sheet pile tidak maksimal masuk kedalam tanah sehingga tidak kokoh. Disisi
lain, sheet pile dibangun diatas tanah timbun yang masih labil dan sheet pile
yang sudah mentok bagian atasnya dipotong agar kelihatan sejajar.
“Kata
pekerja tanah, dasar sungai berpasir sehingga sheet pile mentok tidak bisa
masuk lebih dalam lagi saat diketuk dari atas,” tutur Tgk Irmansyah menirukan
ucapan dari pekerja yang pernah berdialog dengan warga sekitar.
Menurut
Irmansyah, proyek itu terakhir dikerjakan pada bulan Desember 2016. Selama masa
pekerjaan, warga sekitar hanya dilibatkan untuk menjaga alat berat saja, bukan
sebagai pekerja konstruksi proyek. Pasca proyek ditinggalkan oleh kontraktor,
warga sekitar yang melihat pesimis akan ketahanan konstruksi bangunan tersebut.
“Tak
ada yang diharapkan lagi dengan kondisi seperti ini. Selain bangunan tidak
selesai juga tidak bermanfaat apa-apa. Banyak orang melihat kemari dan
memprediksikan proyek ini tidak bertahan lama,” ujar Irman pesimis.
Di
lokasi yang sama, Budi salah seorang warga setempat mengatakan, selain dibangun
asal jadi, proyek tanggul Sungai Seruway juga memakan ruas jalan. Sekitar 1
meter badan jalan didepan Vihara Kelenteng Seruway menuju pekan Seruway
diserobot proyek pembangunan tanggul. Selain dipasang portal, jalur alternatif
menuju pekan dan Mapolsek Seruway tersebut hanya bisa dilalui roda dua dan
pejalan kaki saja. Padahal, sebelum dibangun tanggul, roda empat/mobil pribadi
bisa melintas di jalan tersebut.
“Setelah
tanggul dibangun, badan jalan ini termakan sekitar 1 meter, dulu jalan agak
lebar, sekarang pengendara roda empat sama sekali tidak bisa lewat,” tandasnya.
Pantauan
Atjehupdate.com dilapangan, dari puluhan tiang, ada empat tiang galangan
sebagai pengikat sheet pile yang belum selesai dikerjakan. Tiang beton tersebut
dicor dengan seutas seling bukan dengan kerangka besi. Dibagian lain, hampir 70
persen badan tanggul belum ditimbun, sehingga dipermukaan tanggul membentuk
kawah. Sepintas kondisi sheet pile tegak berdiri, namun bentuknya sudah
berbelok-belok seperti ‘ular’ dan rawan runtuh.[Red]

0 komentar:
Post a Comment