PEMIMPIN LATAH

Rate this posting:
{[['']]}


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah latah diartikan dengan “meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain”. Sedangkan kepemimpinan secara etimologi berasal dari kata dasar “pimpin” yang berarti bimbing dan tuntun.

Penambahan awalan “pe” merubah makna menjadi “orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain bertindak dalam mencapai 
tujuan tertentu,” dan ditambah akhiran “an” yang artinya 
“orang yang mengepalai”. Jadi kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi pihak lain agar melakukan tindakan pencapaian tujuan bersama (Syafi’i, 2014).

Menjadi pimpinan adalah impian kebanyakan orang bahkan menjadi rebutan, hatta dengan menjaminkan lembaran rupiah.

Orang berlomba-lomba dan melakukan berbagai macam cara untuk meraih kekuasaan tanpa peduli banyaknya pengorbanan waktu dan materi,  bahkan mengabaikan moralitas. Seringkali banyak orang yang gelap mata karena silaunya aroma kekuasaan. Banyak orang yang merasa diri layak, lalu ikut berlomba-lomba meraih kekuasaan tanpa mempertimbangkan pengetahuan dan wawasan, disinilahletaknyapermasalahan.

Seorang pemimpin idealnya tidak hanya sekedar memiliki  otoritas, dan legalitas mempengaruhi dan menggerakkan orang lain, namun juga harus memiliki kelebihan dan keunggulan dalam pengetahuan, bukan sekadar ambisius yang hanya bisa membuat janji-janji manis dan harapan yang tinggi namun faktanya jauh dari memadai.

Dalam masyarakat modern,kepemimpinan idealnya memperhatikan aspek pengetahuan dan wawasan, karena keduanya merupakan poin utama yang menentukan seberapa baik langkah yang diambil oleh si pemimpin jika dihadapkan pada suatu masalah. Selain kedua faktor tersebut, seorang pemimpin juga harus memiliki komitmen untuk memprioritaskan masa depan rakyatnya.

Adalah Abi Dzar, salah seorang sahabat Rasulullah SAW, pernah meminta jabatan kepada Rasulullah SAW, namun Rasulullah SAW menolak permintaan tersebut, dengan alasan bahwa Abi Dzar tidak akan sanggup mengemban amanah tersebut (HR Muslim).

Kisah yang sama juga dialami oleh Abdurrahman bin Samurah. RasulullahSAW pernah menasehati Abdurrahman untuk tidak meminta-minta jabatan karena jabatan adalah amanah yang tidak mudah (HR. Bukhari dan Muslim).

Kembali pada konteks Aceh, sebentar lagi kita akan berhadapan dengan pesta demokrasi, Pilkada 2017 yang akan menentukan siapa yang akan memimpin negeri ini. Melihat dari nama-nama Calon Gubernur (Cagub), kita tidak bisa menyimpulkan apakah mereka tergolong ke dalam orang-orang yang latah atau bukan? indikator yang kita miliki adalah status pendidikan.

Pun demikian kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa hanya mereka yang berbasis SocialScience-lah yang layak, sebab kepemimpinan bukanlah soal bakat, tetapi juga proses kematangan yang didapat melalui pengalaman dan usaha pendidikan (Kartono, 2008), termasuk juga faktor keberuntungan (luck) dan momentum.

Bila merujuk pada latar belakang pendidikan, maka kita akan menemukan ada 2 kandidat bergelar Doktor, 4 kandidat bergelar Magister, 5 kandidat bergelar Sarjana dan hanya 1 orang yang berlatar belakang pendidikan menengah atas atau SMA. Lagi-lagi, pendidikan bukanlah indikator tunggal untuk menilai kredibilitas seseorang dalam hal kepemimpinan, termasuk dimensi kelatahannya pada kekuasaan.

Akhirnya, pada titik ini kita harus bersikap realistis. Kita dihadapkan pada fakta bahwa penyelenggara telah memilih 6 orang pasangan calon untuk level propinsi dan 79 pasangan calon untuk level kabupaten/kota.

Terlepas apapun dugaan tentang kelatahan atau tidak, mari berharap bahwarakyat mampu menilai mana yang pasangan calon yang kredibel dan mana pasangan calon yang hanya untuk meramaikan saja. Waalaahu ‘alamu bis shawab.

By: Jamri M.Syuib (Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh) – [RED].


Share on Google Plus

About update atjeh

Atjehupdate.com - Media Tegas Berimbang

0 komentar:

Post a Comment