JANJI MANIS PARA KANDIDAT

Rate this posting:
{[['']]}
Atjehupdate,com - Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat.

Di lingkungan politik janji bukanlah sesuatu yang asing karena itu adalah sebuah alat untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Membicarakan konteks Aceh, sebentar lagi kita akan berhadapan dengan pesta demokrasi Pilkada 2017 yang akan menentukan siapa yang akan memimpin negeri ini.

Masa-masa sekarang adalah masa dimana lisan akan menjadi hal yang sangat terpenting bagi para kandidat, siapa yang pandai bicara kemungkinan besar dia akan berkuasa. Janji manis dan harapan yang tinggi akan mulai terdengar dari para kandidat, hakikatnya ini menjadi sebuah ujian besar bagi masyarakat, harapan kita semua supaya masyarakat tidak mudah terpengaruh dan terpedaya dengan janji-janji tersebut.

Perihal dengan ini Rasulullah SAW pernah bersabda “tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menempati janji”. (H.R Ahmad).

Janji adalah sesuatu yang penting yang harus kita buktikan bukan hanya cukup pada ucapan saja. Sebagaimana kita ketahui bahwa Janji ada yang berupa lisan dan ada yang berupa tulisan.
Kendati nya, janji yang diucapkan atau yang tertulis tersebut harus bisa bertanggung jawab kalau memang memberatkan lebih baik buatlah janji yang mamang terbukti dengan kualitas kerjanya.

Melihat kondisi Aceh yang sangat memprihatinkan khususnya masalah kemiskinan yang belum maksimal diatasi oleh pemerintah, melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan masyarakat Aceh mencapai 17,11%. 

Padahal data Badan Perencanaan Pembangunan Aceh (BAPPEDA)  menyebutkan penerimaan dana otonomi khusus (otsus) Aceh sejak 2008 hingga 2016, hampir mencapai Rp 50 triliun (serambi,26/9/16). Sungguh ironis melihat jumlah tersebut semestinya dengan dana sebanyak itu Aceh tidak seperti yang kita rasakan ini, kenyataan se-sumatera,  Aceh menjadi urutan nomor dua tingkat kemiskinan.

Lain halnya dengan masalah pengangguran yang semakin meningkat, mengutip data BPS  tingkat pengangguran di Aceh periode Februari 2016 kemarin mencatat tertinggi keempat setelah Kepulauan Riau, Kalimantan Timur dan Jawa Barat dengan jumlah 270.000 orang (serambi,26/9/16).

Sebuah fenomena dengan dana yang begitu besar namun pengangguran berada di posisi yang sangat tragis. Maka untuk mengatasi masalah ini kita butuh pemimpin cerdas dan amanah yang bisa memberi solusi ke depan menjadi lebih baik bukan pemimpin yang hanya bisa bermimpi membuat janji palsu dan harapan yang kosong.

Masih dalam konteks tadi “begitu besar dana yang sudah dipakai namun masyarakat masih banyak hidup dalam kondisi susah, pada tahun 2027 sebagai tahun terakhir kita merasakan  dana otsus dan pemerintah juga masih gagal dalam mengatasi masalah kemungkinan besar konflik akan terulang kembali”.

Oleh karenanya dalam jangka waktu sekitar 10 tahun ke depan masa penerimaan dana otsus tersebut kita butuh pemimpin jujur dan amanah yang memilki motivasi diri dan dorongan berprestasi dengan perencanaan yang visionel, program yang pro dengan ekonomi masyarakat dan tidak ada lagi rakyat Aceh yang merasa di anak tirikan.

Akhirnya, pada titik ini kita harus bersikap realistis. Kita dihadapkan pada fakta bahwa penyelenggara telah memilih 6 orang pasangan calon untuk level provinsi dan 79 pasangan calon untuk level kabupaten/kota. Terlepas apapun dugaan tentang janji manis mereka, mari berharap bahwa rakyat mampu menilai mana  pasangan calon yang memiliki sifat jujur dan amanah dan mana pasangan calon yang dusta.


 By. Jamri M. Syuib (Mahasiswa  FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh)- [RED]
Share on Google Plus

About update atjeh

Atjehupdate.com - Media Tegas Berimbang

0 komentar:

Post a Comment