JAKARTA - Tanda kutip kerikil untuk
memberikan impresi betapa Gatot Nurmantyo masih dianggap sesuatu yang tidak
"sesuatu" oleh hulubalang dan para penggembira Jokowi. Bukan isapan
jempol jika Jokowi masih tidak begitu teryakini bahwa kelak di Pilpres 2019
seorang jenderal yang meraup simpati besar dari kelompok terbesar di Indonesia.
Ummat
Islam bahkan jauh-jauh hari akan ijo royo-royo untuk menjungkalkan Jokowi yang
sangat "merah" dan "kuning" itu. Kuning bukan representasi
dari partai oportunis yang dipimpin oleh seorang oportunis tulen semacam Setya
Novanto.
Jika
dahulu ada polarisasi antara Jenderal Hijau dan Jenderal Merah yang kubu
Merah-nya ampasnya masih nempel di pemerintahan Jokowi. Yang menempel sebut
saja, Hendro Priyono dan Luhut Binsar Panjaitan. Sedangkan Wiranto kurang lebih
samalah dengan Setya Novanto.
Konstelasi
politik yang dinamikanya cenderung menyakiti perasaan ummat Islam setidaknya
menjadi pintu gerbang bagi Gatot yang terang-terangan menentang upaya Jokowi
mempersilahkan anasir-anasir atau underbouw dari partai terlarang dan ternajis
di Indonesia untuk eksis kembali.
Para
hulubalang yang meleburkan dirinya di tengah geliat Jokowi sebagai kepala
pemerintahan setidaknya dapat di telisik dari beberapa insiden-insiden yang
menimbulkan riak-riak yang kontroproduktif antara maklumat pemerintahan dengan
simbol-simbol negara seperti Tentara Nasional Indonesia. Para tentara tersebut
terang benderang melakukan aksi perlawanan kepada oknum-oknum yang menjajakan
atribut Palu-Arit.
Percikan-percikan
perlawanan dari the Old Soldier kepada upaya-upaya sistimatis dari sisa-sisa
perjuangan 1965 dan hegemoni Tiongkok sebagai kapitalis namun memiliki filosofi
ateisme dan komunisme untuk mengeliminasi nilai dasar Indonesia yakni negara
berketuhanan dan bukan negara berekonomian. Pembangunan spirit bangsa dengan
tajuk Revolusi Mental dengan aplikasi bernama Bela Ahok adalah sebuah
paradoksal yang paling menggelikan.
Tentara
menunjukkan spirit kebangsaan, entah elemen yang dipersenjatai yang lain. Apakah menunjukkan keberpihakan kepada negara atau condong keberpihakannya
kepada simbol-simbol yang tengah berkuasa. Dan susah juga di hindari persepsi
ummat Islam tentang mesranya Jokowi dengan Ahok yang notabene telah dicanangkan
sebagai musuh dari peradaban dan keyakinan Islam yang dipahami oleh mayoritas
muslim Indonesia.
Rasa
masygul melihat presiden yang tebal muka dan rendah empati atas rasa
tersinggung dan amarah besar dari para peserta beberapa Aksi Bela Islam
beberapa hari lalu, yang menyebabkan Gatot Nurmantyo bak mendapatkan berkah dari
langit.
Kelompok-kelompok nasionalis yang realistis seperti Gerindra atau
kelompok islamis tapi malu-malu seperti PKS, PKB dan PAN tentu saja akhirnya
memiliki obyek untuk bisa melabuhkan harapan politisnya. Sedangkan
kelompok-kelompok oportunis dan kosmetis seperti Nasdem, Hanura dan Golkar akan
limbung mengikuti angin yang dihembuskan oleh Jokowi yang tidak jelas orientasi
kekuasaannya.
Antara
menyenangkan indung politiknya atau para tauke yang tamak. Susah menghindari
tudingan pembangunan infrastruktur yang massif dan instan yang dilakukan oleh
Jokowi saat ini tidak terlepas dari kekuatan lobby yang intens dan finansial
yang luar biasa dari para tauke tersebut.
Sedangkan
PDI Perjuangan yang sakaratul maut seiring menuanya umur Megawati dan tidak
adanya putra mahkota yang bisa diharapkan menyatukan simpul-simpul antara
kelompok kristiani, islam abangan dan penumpang-penumpang ogah membayar seperti
Jaringan Islam Liberal setidaknya menjadikan Gatot memiliki kans yang sangat
besar. Sedangkan pada pilpres 2019, sebaiknya Jokowi mengikuti pesan angin.
Jadilah pengusaha meubel lagi, anda cocok dengan profesi ini.[kompasiana]
Ahlan
wa sahlan di politik praktis Indunisi yaa akhiy Gatot Nurmantyo!

0 komentar:
Post a Comment