Sesungguhnya inilah dampak
dari MEA atau dalam bahasa Inggrisnya ASEAN
Economic Community (AEC), turunan dari ASEAN
Free Trade Agreement (AFTA). Perdagangan bebas, devisa bebas, dan persaingan
bebas menuju ruanglingkup pasar global. Bak merpati lepas dari sangkarnya,
bebas lepas nak hinggap dimana pun sesuka hati. Namun tentu tanpa bekal yang
mantap, Sang Merpati hanya akan menjadi hiasan singkat langit biru. Sehubungan
dengan itu, dalam perbincangan kesepakatan multilateral, siapapun tidak bisa
menampik bahasa Inggris menjadi solusi basis.
Apalah daya, “nasi sudah
menjadi bubur”. Kepala Negara beserta antek-anteknya, mahligai tahta pembuat
kebijakan pengambil keputusan, yang menginternalisasikan kegelisahan ini ke
dalam relung hati kita semua. Tidak hanya pada SDM masyarakat, SDM aparatur pun
merasakan imbasnya. Pemerintah pusat meninggikan standar kualifikasi calon pejabat
eselon II, III, dan IV, terutama kompetensi bahasa Inggris harus melampirkan
sertifikat TOEFL dengan skor diatas 450.
Sayangnya sebuah jurnal
terbitan kampus ternama di Indonesia yang berisikan analisis kompetensi bahasa
Inggris para pejabat eselon II, III, dan IV di tingkat kementerian menampakkan
fakta bahwa dari skala 1-10 , nyatanya hanya duduk di nilai 6 dalam artian masih mulai memahami bahasa asing
tersebut. Jadi jangan berpikir jauh - jauh dulu untuk mengkursuskan para
pekerja lokal, toh pejabatnya juga butuh dikursuskan.
Bukannya mengesampingkan,
hanya saja saat ini bukan berbicara peluang melainkan keterbatasan, jadi taktik
inside out adalah yang paling tepat.
Bagaimana bisa menopang yang di luar kalau yang di dalam belum sepenuhnya
kokoh? Tegasnya, maju mundur suatu daerah ditentukan oleh kebijakan - kebijakan
yang dikeluarkan oleh para pekerja di dunia pemerintahan.
Inilah kelebihan raga kecil
penuh nafsu yang bernama manusia, mampu membuat masalah sekaligus alternatif
pemecahannya. Sesuai Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan
dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, baik pusat maupun daerah sudah
melaksanakan kegiatan berfondasi sama, hanya nama saja yang berbeda: Pendidikan
dan Pelatihan (Diklat) Peningkatan Kompetensi Bahasa Inggris ataupun Diklat
TOEFL. Tetapi sepertinya daerah - daerah “terkenal” saja yang sadar akan
pentingnya diklat ini. Sebagian berkilah kalau di daerah mereka tidak didatangi
investor atau wisatawan asing. Adapula yang beranggapan bahasa Indonesia mereka
juga masih belum betul, lalu untuk apa belajar bahasa Inggris, untuk apa diklat
TOEFL?
Tak boleh lupa, tadi
sudah dikatakan ada tuntutan pemerintah pusat yg notabene harus ditaati.
Lagipula, dari pada berkutat di kegiatan monoton dari tahun ke tahunnya,
cobalah sesuatu yg solutif dan inovatif dengan menginput diklat TOEFL ini dalam
rancangan kegiatan anggaran daerah. Kalau bisa hemat saku pribadi, kenapa
tidak? Selain itu, para pesertanya juga akan mampu terjun ke dunia digital yang
saat ini menerpa bahkan di kalangan balita.
Banyak anak - anak kecil piawai
memainkan gadgetnya, lengket di dunia online.
Sejatinya orangtua, bukanlah sekedar menuntut melainkan menuntun, maka
terjunlah ke dunia mereka dan tentu solusi basis ialah bahasa Inggris. Jelas,
diklat ini begitu positif. Lalu kekhawatiran apalagi yang muncul? TOEFL begitu
sulit? Keliru besar, karena TOEFL bak kapal di lautan yg bila semakin kita
dekati maka akan jelas terlihat likak likuk elok badannya, namun bila kita
diami maka ia pun menjauh mengecil menghilang seiring sapuan senja menguning.
Napak
Tilas TOEFL
Berawal dari permasalahan
tentang bahasa Inggris ketika digunakan oleh negara - negara yang bahasa
nasionalnya bukan bahasa Inggris, ditetapkanlah standarisasi melaui Test of English as a Foreign Language
(TOEFL), tes untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang yang berada
diluar negara berbahasa Inggris. Pengembangan tes ini pertama kali secara resmi
dilakukan di University of Stanford, Amerika Serikat di tahun 1963. Kembali ke
tuntutan pemerintah pusat, yang diminta adalah sertifikat TOEFL yang diakui
oleh lembaga Educational Testing Service
(ETS) dimana biasanya bekerjasama dengan
perguruan tinggi atau lembaga bahasa Inggris terkemuka, dan biaya tesnya
bisa berkisar Rp. 500 ribu tergantung kurs dollar saat mendaftar tes.
TOEFL sebenarnya seperti
menjawab soal pelajaran Matematika, bila paham rumus dasarnya maka serumit
apapun penyajian soalnya akan mudah terjawab. Didalamnya terdapat 3 sesi dan berikut
tips dan trik singkat sebagai pre-preparation
atau bekal awal memasuki medan laga TOEFL.
1. Listening Comprehension
Kecenderungan soal di
sesi ini menguji pemahaman ide pokok dan informasi detail dari apa yang
disampaikan oleh si speaker atau
pembicara sehingga menguras konsentrasi indera dengar maka fokuslah. Biasanya
pembicara membahas isu - isu yang terjadi di Amerika Serikat atau negara lain
tempat bahasa Inggris digunakan, jadi ada baiknya sebelum tes perbanyak membaca
mengenai lingkungan mereka. Jangan terpaku pada satu kata yang tidak jelas
pengucapannya karena kemungkinan akan diucapkan kembali oleh si pembicara atau
bila tidak paham temanya, asal jawab saja, toh tidak ada pengurangan nilai.
2. Written and Structure
Expression
Sesi ini lebih
mengandalkan hafalan grammar. Kecenderungan soal menguji materi - materi
seperti parallel structure, participle, reduced sentence, passive voice,
superlative, dan sebagainya. Alangkah baiknya terus mengayak hafalan
grammar ini dengan banyak - banyak menjawab soal.
3. Reading Comprehension
Sesi terakir ini cukup
menguras mata karena teks yang disajikan cukup panjang namun soal yang ditanya
cukup simple, seperti tema wacana yang selalu membahas dunia akademik ataupun
sinonim kata yang ada dalam wacana tersebut. Untuk itu, ketimbang teks
wacananya, baca terleibih dahulu pertanyaanya.
Tentulah hafalan rumus
akan cepat hilang bila tidak dibarengi dengan latihan terus - menerus. Selain
itu, segala kemungkinan bisa terjadi. Mengerjakan 140 soal dalam waktu 130
menit untuk keseluruhan sesinya, pastilah ada soal yang mengecoh ditambah lagi
percakapan yang hanya diucapkan sekali dengan sangat cepat atau tidak jelas
karena audio kurang bagus, maka bila gagal,
coba lagi dan lagi, seperti pepatah "ala bisa karena terbiasa".
Penutup
Diharapakan di anggaran
2017 yang sedang berjalan ini, pihak terkait secara merata diseluruh Indonesia ketika
merealisasikan kegiatan yang sudah digarap bisa sembari menyusun kerangka kegiatan
diklat dimaksud di atas sehingga kalau - kalau ada celah di anggaran perubahan
bisa langsung diinput atau setidak-tidaknya
di anggarkan tahun depan. Lebih cepat lebih baik.
Jika SDM aparaturnya
sudah mumpuni melalui diklat TOEFL tersebut, mereka pun bisa mendirikan lembaga
non profit, asosiasi, atau komunitas belajar bahasa Inggris bersama yang
diperuntukkan bagi SDM masyarakat di daerahnya, Jadi, tidak perlu kursus di
luar karena sudah tersedia tenaga pengajar di tempat sendiri, karena bukankah
itu sejatinya tugas pelayan publik? Selain menghemat dana daerah dan si pekerja
lokal tersebut, bisa pula meningkatkan silaturahim sesamanya yang berujung pada
tumbuhnya rasa bersatu padu menjaga ekonomi daerahnya sehingga serbuan TKA bisa
diantisipasi dan diimbangi oleh Sang Tuan Rumah. Semoga terealisasi!
By. Ghustiva
Liani, SS. (PNS BKPP, Kab. Aceh Tamiang).[Red]

0 komentar:
Post a Comment