SI PUTIH DALAM PILKADA

Rate this posting:
{[['']]}
Atjehupdate.com - Pemilihan Umum (PEMILU) termasuk Pemilihan Kepala Daerah (Pikada) selalu diwarnai oleh adanya fenomena Golongan Putih (Golput).

Fenomena ini menjadi salah satu momok yang mengkhawatirkan bagi demokrasi yang berkualitas, sebab Golput dinilai sebagai sosok yang tidak mendukungproses berkembangnya sebuah demokrasi.

Bagi penyelenggara pemilu, keberadaan Golput menjadi catatan tersendiri. Mereka harus dilihat sebagai bagian dari tantangan pendidikan politik rakyat.

Penyelenggara pemilu –Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih)— harus berpikir kreatif dalam melakukan sosialisasi pemilu agar masyarakat faham dan mau menggunakan hak kewarga negaraannya ini sebaik-baiknya, dengan sasaran menekan angka Golput serendah mungkin.

Data dari acehkita.com mencatat adanya 787.533 (32,1%) masyarakat Aceh dari total pemilih 2.457.196jiwa yang tidak menggunakan hak-nya dalam pilkada 2012 yang lalu.

Secara defenisi, Golput adalah suatu tindakan untuk tidak menggunakan hak suaranya dalam satu musim pemilu dengan berbagai faktor dan alasan. 
Sering kita lihat masyarakat yang memberikan suara kosong atau tidak mencoblos sama sekali, atau menusuk lebih dari satu gambar partai/kandidat,atau bahkan tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari pemilihan berlangsung.

Benar bahwa Golput adalah hak setiap warga negara, namun Golput adalah adalah juga tindakan yang tidak bertanggung karena telah menunjukkan sikap ketidakpedulian atau tidak adanya partisipasi terhadap perubahan jalannya negara.

Ada tiga cara memaknai fenomena Golput dalam sebuah pemilu. Pertama,Golput merupakan refleksi kekecewaan masyarakat terhadap kinerja politisi terpilih, misalnya kekecewaan terhadap Anggota Parlemen terpilih dalam konteks Pemilu legislatif.

Memburuknya citra wakil rakyat akibat skandal suap dan korupsi menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat, ditambah lagi dengan prestasi kerja yang minim hingga periode masa jabatan habis. 

Secara umum, bila terdapat sejumlah kebijakan yang membuat masyarakat kecewa, maka potensi Golput akan bertambah.

Kedua,minimnya pemahaman masyarakat terhadap pemilu sebagai medium pendidikan politik.Masyarakat belum mengerti dengan utuh arti politik itu sendiri.
Hal ini diperburuk oleh fakta kemiskinan dan tingkat pendidikan yang minim yang membuat isu pemilu tidak menjadi prioritas bagi mereka, sebab masyarakat masih bergulat pada pertanyaan apa yang bisa kita konsumsi hari ini.

Ketiga,sikap apatis publik terhadap kinerja politisi dan potensi mereka dalam membangun perubahan ikut berkontribusi bagi meningkatnya angka golput.

Ada asumsi sederhana bagi publik bahwa yang dipilih hanya akanmengabdi untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya saja, tanpa memikirkan nasib konstituen atau rakyat yang mengusungnya dalam musim pemilu sebelumnya.

Khatimah

Penyelenggara pemilu perlu mengantisipasi potensi Golput ini dengan cara meningkatkan pemahaman dan kepekaan masyarakat terhadap pemilu, khususnya terhadap Pilkada Aceh 2017.

Masyarakat perlu didorong pada satu kesadaran untuk bersama-sama menentukan arah kebijakan pemerintahan terpilih.

Masyarakat masih menganggap bahwa pilihan mereka selama ini tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan mereka, atau merasa kecewa dengan apa yang dijanjikan oleh para kandidat pada musim kampanye, atau merasa dibodohi karena pilihannya selama ini hanya sebuah formalitas saja.

Dalam konteks Pilkada Aceh, fenomena Golput jelas berdampak negatif. Artinya sikap absen-politik ini akan menggagalkan upaya memilih pemimpin Aceh yang berkualitas untuk periode lima tahun ke depan.

Suksesnya Pilkada Aceh tentunya akan membawa dampak bagi kesuksesan pembangunan nasional dalam arti lancarnya program-program pembangunan nasional yang dikemudikan oleh pemimpin potensial yang didukung oleh mayoritas masyarakat yang berada di dalam suatu wilayah.

Sikap absen politik, membuat masyarakat apatis dalam setiap program pembangunan, salah satunya karena merasa program tersebut tidak dipandu oleh sosok yang dia dukung.

Akhirnya hal ini juga akan menyebabkan kegagalan dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Mari dukung upaya menekan angka Golput. Mari dorong publik untuk berani bersikap independen dan merasa aman dari setiap intimidasi. Mari memilih pemimpin yang jujur dan berkualitas. Katakan “Aku Memilih dengan Hati”

By. Nurfitri (Mahasiswi  FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh)- [RED]



Share on Google Plus

About update atjeh

Atjehupdate.com - Media Tegas Berimbang

0 komentar:

Post a Comment